Tetasistana.Id, Jakarta .
CIREBON – Dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengguncang Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Sekitar 100 anak dilaporkan terdampak setelah mengonsumsi makanan dari program tersebut pada Selasa (20/10/2026).
Pemerintah Kota Cirebon bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan Badan Gizi Nasional (BGN) langsung bergerak melakukan penanganan terhadap para korban. Langkah cepat dilakukan untuk memastikan anak-anak yang terdampak segera mendapatkan pelayanan medis.
Penjabat (Pj) Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, menyampaikan bahwa jajaran pemerintah daerah bersama instansi terkait telah dikerahkan untuk menangani situasi tersebut, sekaligus memastikan keselamatan para korban menjadi prioritas utama.
“Langkah cepat dan penanganan medis langsung diambil demi menjamin keselamatan anak-anak yang terdampak. Seluruh jajaran kesehatan telah dikerahkan secara maksimal,” tegas Effendi Edo dalam keterangannya.
Berdasarkan informasi yang disampaikan, anak-anak yang terdampak berasal dari sejumlah lembaga pendidikan dan layanan masyarakat, yakni SDN Kalijaga Permai, SDN Taman Kalijaga Permai, TK Teratai, serta Posyandu PM3B.
Para korban telah dievakuasi untuk mendapatkan penanganan medis di empat rumah sakit rujukan, yaitu:
1. RSUD Gunung Jati
2. RS Ciremai
3. RS Siloam
4. RS Cahaya Bunda
Penanganan medis terus dilakukan untuk memantau kondisi para korban. Sementara itu, penyebab pasti dugaan keracunan masih harus dipastikan melalui pemeriksaan dan pengujian lebih lanjut.
Sebagai langkah antisipasi, Badan Gizi Nasional (BGN) membekukan sementara atau melakukan suspend terhadap operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalijaga Lima, yang disebut sebagai penyedia makanan dalam kejadian tersebut.
Selain penghentian sementara operasional, sampel makanan juga telah diamankan untuk menjalani pengujian laboratorium. Pemeriksaan ini diperlukan guna mengetahui apakah makanan yang dikonsumsi berkaitan dengan munculnya gejala yang dialami para korban.
Hasil pemeriksaan laboratorium diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai penyebab kejadian sekaligus menjadi dasar bagi langkah penanganan dan evaluasi selanjutnya.
Pemerintah Kota Cirebon memastikan akan terus mendampingi proses pemulihan para korban serta memperkuat koordinasi dengan kepolisian dan dinas terkait.
Penelusuran juga diarahkan pada aspek kelayakan makanan, kebersihan, proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan dalam pelaksanaan program MBG di wilayah tersebut.
Peristiwa ini menjadi perhatian serius karena program MBG menyasar anak-anak yang membutuhkan asupan bergizi sekaligus jaminan keamanan pangan. Pengawasan terhadap seluruh tahapan penyediaan makanan menjadi bagian penting untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Pemerintah dan pihak terkait diharapkan menyampaikan perkembangan penanganan secara terbuka, termasuk hasil pengujian laboratorium, kondisi terkini para korban, serta hasil evaluasi terhadap SPPG yang bersangkutan.
Hingga penyebab pasti diketahui, dugaan keracunan ini masih memerlukan pembuktian berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan laboratorium.
(drt)












