Terasistana.id, Jakarta
GARUT—
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut menggelar Salat Istisqa bersama sebagai bentuk ikhtiar spiritual memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan yang membawa keberkahan dan manfaat bagi masyarakat.

Salat Istisqa dilaksanakan dengan khidmat di area Lapangan tenis Lapas Kelas IIA Garut dan diikuti oleh pegawai serta Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Kebersamaan antara petugas dan warga binaan dalam satu saf menghadirkan suasana religius sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat keimanan, kepedulian, dan kebersamaan di lingkungan pemasyarakatan.
Pelaksanaan Salat Istisqa dipimpin oleh KH. Aceng Alawi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut. Seusai salat, jamaah bersama-sama memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan, memohon agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang bermanfaat, memberikan keberkahan bagi kehidupan masyarakat, serta menjauhkan dari berbagai dampak kekeringan.

Kepala Lapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, menyampaikan bahwa pelaksanaan Salat Istisqa tidak hanya menjadi bentuk ikhtiar dalam menghadapi kondisi kemarau, tetapi juga memiliki nilai penting dalam pembinaan kepribadian warga binaan.
“Salat Istisqa ini merupakan wujud ikhtiar dan doa kita bersama. Sebagai manusia, kita melakukan berbagai upaya secara lahiriah, tetapi pada saat yang sama kita juga harus menyadari bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah SWT. Kita memohon agar segera diturunkan hujan yang membawa rahmat, keberkahan, dan manfaat bagi masyarakat,” ujar Rusdedy.

Rusdedy menambahkan, keterlibatan warga binaan dalam kegiatan keagamaan menjadi bagian penting dari proses pembinaan di Lapas Garut. Pembinaan tidak hanya diarahkan pada peningkatan keterampilan dan kemandirian, tetapi juga pada penguatan nilai spiritual sebagai bekal bagi warga binaan dalam menjalani proses perubahan diri.
“Kami ingin setiap kegiatan keagamaan menjadi ruang bagi warga binaan untuk melakukan introspeksi dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Harapannya, nilai-nilai yang diperoleh selama menjalani pembinaan dapat tertanam dan menjadi bekal ketika mereka kembali ke tengah keluarga dan masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, KH. Aceng Alawi*mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan Salat Istisqa sebagai momentum memperbanyak doa, istighfar, dan memohon ampun kepada Allah SWT. Ikhtiar meminta hujan, menurutnya, sekaligus menjadi pengingat bagi manusia mengenai pentingnya rasa syukur dan kepedulian terhadap alam serta lingkungan.

Kegiatan berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan. Pegawai dan warga binaan tampak larut dalam doa, menyatukan harapan agar hujan segera turun membawa kebaikan dan keberkahan.
Melalui pelaksanaan Salat Istisqa ini, Lapas Kelas IIA Garut kembali menegaskan bahwa proses pemasyarakatan tidak hanya berkaitan dengan aspek keamanan dan pembinaan kemandirian, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual. Dari balik tembok pemasyarakatan, doa dan harapan dipanjatkan bersama untuk turunnya rahmat Allah SWT bagi Garut dan masyarakat secara luas.
NP






