Perhatian Serius Pemkot Pangkapinang Pada Sampah Yang Meningkat Terutama Di Hari Besar Keagamaan

Terasistana.id, Jakarta

Pangkalpinang ,

Wali Kota Pangkalpinang , Prof Saparudin menyebut tingginya volume sampah di picu oleh aktivitas masyarakat yang terus meningkat.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 240 ribu jiwa serta mobilatas tinggi, produksi sampah sulit dikendalikan.

” Ini harus menjadi perhatian bersama. Sampah kita cukup besar setiap harinya, ” kata Prof Udin saat membuka Focus Group Discussion penyusuanan Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Tahun 2026 di Bapperida Pangkalpinang, Kamis ( 16/4/2026).

Selain persolan sampah, ia juga menyoroti berbagai masalah lingkungan lain seperti dampak pertambangan, alih fungsi lahan, hingga banjir akbar sistem drainase yang belum optimal.

Menurutnya, isu lingkungan saat ini tidak lagi bersifat lokal, tetap sudah menjadi persoalan global yang membutuhkan penagananan serius dan berkelanjutan.

Ia mencontokan aktivitas pertambangan di Bangka Belitung yang dinilai belum diimbangi dengan rekllamasi dilakukan dengan reklamalasi yang maksimal.

” Bukan hanya soal menambang tapi bagaimana Reklamasi dilakukan dengan baik. Ini yang masih menjadi persoalan, ” ujarnya.

Di kawasan perkataan, tekanan terhadap lingkungan juga semakin meningkat. Pembangunan yang tidak terkendali serta penyimpitan saluran air memperparah kondisi lingkungan.

Ruang terbuka hijau yang seharusnya menjadi penyangga ekosistem semakin berkurang, bahkan sejumlah bangunan berdiri di bantaran sungai sehingga mempersempit aliran air.

Kondisi ini berdampak pada munculnya banjir di sejumlah titik. Meski berasa di ketinggian sekitar 4-5 meter di atas permukaan laut, Pangkalpinang tetap rawan banjir karena kondisi wilayah yang cekung.

Pemerintah Kota telah melakukan berbagai upaya, seperti normalisasi sungai dan pendalaman alur di sungai Rangkui hingga kawasan Blok Bayur.

Namun, persolan utama berbeda pada sistem drainase dalam Kota Terdapat empat jalur utama aliran air dari barat ke timur yang jika terganggu dapat menyebabkan genangan.

Saat ini, terdapat sekitar tujuh hingga delapan kawasan rawa banjir, terutama di wilayah dataran rendah.

Selain itu, keterbatasan ruang terbuka hijau juga menjadi perhatian. Meski kualitas udara masih tergolong baik, pemerintah tetap mendorong penambahan vegetasi untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, Prof Udin juga meyoroti penyusunan dokumen perencanaan lingkungan yang dinilai masih terlalu normatif.

Ia menegaskan dokumen harus bisa diterapkan di lapangan dan didukung oleh data serta kajian ilmiah, bukan sekedar mengacu pada regulasi.

Ia menambahkan, solusi lingkungan membutuhkan pendekatan berbasis riset agar lebih tepat sasaran.

Prof.Saparudin juga mengajak seluruh pihak untuk terlibat dalam penanganan lingkungan, mulai dari pemerintah, dunia usaha akademisi hingga masyarakat.

“Melalui FGD ini, diharap akan dapat dirumuskan langkah konkret dalam penyusunan SLHD Tahun 2026 yang lebih aplikatif dan berbasis data, ” harapannya.

 Sar BBL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *