Akses Jalan Huntara Lebakgedong Disorot, Proyek Diduga Bermasalah

Terasistana.id Lebak – Kegiatan perkerasan badan jalan menuju Hunian Sementara (Huntara) bagi korban banjir bandang dan longsor tahun 2020 di Desa Banjarsari, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, diduga bermasalah dan dinilai perlu mendapat pengawasan dari berbagai pihak, Jum’at (20/2/2026).

Berdasarkan keterangan Asep, warga Kecamatan Lebakgedong, saat ini tengah dilakukan pekerjaan perkerasan jalan menuju lokasi pengungsian tersebut. Namun pelaksanaannya justru menimbulkan sejumlah pertanyaan di tengah masyarakat.

Pasalnya, di sepanjang lokasi pekerjaan tidak ditemukan papan informasi proyek sebagaimana mestinya. Selain itu, material batu yang digunakan diduga sebagian diambil dari sekitar badan jalan, bahkan terdapat penggunaan batu cadas.

Di lokasi kegiatan, salah seorang pekerja yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, keterlambatan pekerjaan terjadi karena kekurangan material batu, sehingga pekerja memanfaatkan batu yang berada di sekitar jalan.

Diketahui, proyek tersebut bersumber dari anggaran Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Provinsi Banten sebesar Rp400 juta. Hingga saat ini pekerjaan baru mencapai sekitar 250 meter, dari target 400 meter.

Padahal, pengerjaan awal dimulai pada Oktober 2025 dan seharusnya telah rampung pada tahun yang sama. Namun saat ini kegiatan justru terhenti tanpa kejelasan waktu penyelesaian.

Masyarakat juga menilai kebutuhan akses jalan menuju Huntara sebenarnya bukan hanya 400 meter, melainkan sekitar 2 kilometer hingga perbatasan Jawa Barat. Hal itu merujuk pada komitmen awal Pemerintah Provinsi Banten untuk membangun akses jalan secara bertahap menuju kawasan tersebut.

Sesuai pembagian kewenangan, Pemerintah Kabupaten bertugas melakukan pematangan dan pemerataan lahan, Pemerintah Provinsi membangun akses jalan, sementara pembangunan 221 unit rumah merupakan kewenangan Pemerintah Pusat.

Warga berharap pemerintah segera memberikan penjelasan terkait kelanjutan proyek tersebut, mengingat akses jalan menuju Huntara sangat dibutuhkan masyarakat terdampak bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *