Terasistana.id, Jakarta
Jakarta,
15/02/2026
Sosok pengusaha sukses yang telah lebih dari 45 tahun di dunia bisnis telah menjadi ikon penting,khususnya bagi generasi muda. Pengalamannya jatuh bangun dalam berbisnis,telah membuatnya bukan saja tangguh,tapi juga bermental baja.
Hal tersebut juga membuat dirinya begitu bijaksana dalam menyikapi berbagai persoalan yang muncul. Ketenangan dan ketegasannya telah menempatkan dirinya pada pucuk tertinggi hidupnya. Dirinya ibarat buku yang terbuka,di mana setiap orang bisa belajar darinya. Tidak hanya melalui perkataan,tapi juga sikap dan tindakannya.
Dikutib redaksi pada Minggu (15/02/2026),Dialah Dr. John N. Palinggi,MM.,MBA.,CEO PT Karsa Mulindo Semesta Group,sosok low profile yang dikenal karib dengan petinggi,dari satu presiden ke presiden lainnya di Indonesia. Dirinya juga seorang pengusaha yang clear and clean.
Dibalik kesuksesannya,ternyata ada sejumlah prinsip-prinsip bisnis yang diadopsi dan merupakan falsafah dari Negeri Tirai Bambu.
“Saya banyak diajari falsafah bisnis orang Tiongkok,antara lain: “seribu teman masih kurang satu musuh sudah terlalu banyak”. Artinya,kalau kita punya banyak saudara atau teman,maka kita akan banyak ditolong. Dalam dunia usaha dikenal istilah jejaring bisnis. Kalau kita banyak musuh,membuat kita sulit untuk maju,”kata John Palinggi.
Falsafah lainnya,sambung Ketua Umum Ketua Umum Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distributor Indonesia (Ardin) ini, “minum air harus tahu dan memelihara sumbernya”. Artinya,orang yang menolong kita dan membuat kita maju jangan dikecewakan atau disakiti,tapi harus dihormati.
“Pandai-pandailah berterima kasih dalam hidup ini sekalipun mungkin ada ketidakcocokan dengan orang yang menolong kita,perasaan itu harus dihilangkan dan tetap munculkan perasaan yang baik kepadanya,”ujar John mengingatkan.
Lanjut dikatakan, “mau ikan besar umpannya harus besar,mau ikan kecil, umpannya juga kecil”.
“Ini bukan sogokan,tapi keunggulan individual yang mampu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan kesungguhan bekerja. Ini berkaitan dengan mental orang dalam bekerja. Juga dalam berbisnis/bekerja harus memelihara hati agar tetap berpikir positif. Saya memelihara hati saya karena dari situlah terpancar kehidupan,”urai Ketua Umum Asosiasi Mediator Indonesia (Amindo) ini.
John menambahkan,ada juga pepatah bisnis Tionghoa, “Siau cien pu cu,ta cien pu ru” (uang kecil tidak keluar, uang besar tidak masuk). Artinya,jika Anda enggan mengeluarkan modal kecil,maka pendapatan besar atau omset tidak akan datang. Ini menyoroti pentingnya investasi awal dan biaya operasional.
Dijelaskan,prinsip dasar bisnis saling terbuka,saling menghormati,dan saling menguntungkan. Tidak boleh berbuat curang. Kalau mitra kita ada hal yang kurang baik jangan disiarkan keluar.
“Dalam dunia bisnis tidak ada yang tidak bisa diselesaikan. Jangan takut sama singa. Bahkan,bagi orang Tionghoa,kalau perlu masuk ke kandang singa,supaya dia tahu berapa tajam taringnya. Orang Tionghoa tidak pernah berputus asa. Selalu memiliki fighting spirit. Itu harus kita contoh,” tukasnya.
Baginya,penting untuk selalu menyebarkan kebaikan kepada siapapun. “Orang tidak akan korupsi kalau memahami esensi ajaran agama terkait perlunya menyebar kebaikan,” tegas pengamat militer,sosial kemasyarakatan ini.
Sebab secara mendasar ada dua ajaran agama yakni,pertama,sebarkan kebaikan terus menerus dalam hidup dan jangan pernah berhenti. Kedua, berhentilah berbuat jahat dan jangan ulangi lagi. “Banyak orang lupa dengan hal itu. Bisa jadi karena diperlakukan semena-mena oleh hukum atau dirinya no hope (tidak ada pengharapan) untuk membiayai keluarganya sehingga melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum,” tukasnya.
Dirinya menegaskan agar semua pihak menjaga hati dan perilakunya. “Tinggalkan perilaku yang tidak baik. Rukun dalam perbedaan karena itu suatu keindahan. Dukung program pemerintah,”pungkasnya.
Git-Red.






