Terasistana.id, Jakarta
“Baret ungu bukan sekadar kebanggaan, tetapi simbol pengabdian dan amanah yang akan dibawa sepanjang perjalanan hidup seorang prajurit.”
Dispen Kormar TNI Angkatan Laut (Malang Selatan). Kebahagiaan, kebanggaan, dan haru bercampur menjadi satu saat para orang tua dan keluarga menyaksikan putra-putra tercinta resmi menyandang Baret Ungu Korps Marinir TNI Angkatan Laut. Di Pantai Baruna, Malang Selatan, Senin (12/10/2026), momen yang telah lama dinantikan itu menjadi saksi berakhirnya perjuangan panjang sekaligus awal perjalanan baru sebagai Prajurit Petarung penjaga kedaulatan bangsa.

Di balik tegapnya barisan prajurit, tersimpan kisah perjuangan, pengorbanan, dan doa keluarga yang tak pernah putus. Selama kurang lebih dua bulan menjalani Pendidikan Komando (Dikko), para prajurit ditempa melalui berbagai latihan berat yang menguji ketahanan fisik, mental, disiplin, dan keberanian. Sementara itu, keluarga di rumah terus menyertai perjalanan mereka dengan harapan agar putra yang dicintai dapat menuntaskan pendidikan dan kembali dengan membawa kebanggaan.
Suasana haru semakin terasa ketika Baret Ungu disematkan. Mata yang berkaca-kaca, senyum penuh kebanggaan, serta doa yang terucap dalam diam menjadi gambaran betapa besar arti momen tersebut bagi setiap keluarga. Bagi mereka, baret ungu bukan hanya simbol keberhasilan seorang anak menuntaskan pendidikan, tetapi juga buah dari perjuangan panjang yang dijalani dengan keteguhan hati.

Di hadapan keluarga, sosok yang dahulu dilepas sebagai seorang pemuda kini berdiri dengan identitas baru sebagai prajurit Korps Marinir. Ada kebanggaan atas keberhasilannya, sekaligus harapan agar ia senantiasa diberikan keselamatan, kekuatan, dan perlindungan dalam setiap penugasan. Sebab, keluarga memahami bahwa di balik seragam dan kebanggaan seorang prajurit, terdapat tanggung jawab besar yang harus diemban demi bangsa dan negara.
Pembaretan Mantan Siswa Komando Angkatan ke-180 ini diikuti 752 prajurit, terdiri atas 453 siswa Pendidikan Pertama Bintara (Dikmaba) dan 299 siswa Pendidikan Pertama Tamtama (Dikmata). Bagi seluruh prajurit, penyematan Baret Ungu bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal pengabdian yang menuntut kesetiaan, kedisiplinan, keberanian, dan tanggung jawab dalam setiap pelaksanaan tugas.

Baret Ungu juga menjadi pengingat bahwa setiap langkah prajurit membawa harapan keluarga dan kehormatan satuan. Di balik tugas yang menantang dan pengabdian yang tidak selalu mudah, terdapat orang-orang tercinta yang senantiasa menunggu kabar, memanjatkan doa, dan berharap agar mereka selalu diberikan keselamatan.
Hari itu, air mata yang jatuh bukan semata-mata karena haru, melainkan juga ungkapan syukur atas perjuangan yang berhasil dilalui. Pelukan, senyuman, dan tatapan bangga menjadi kenangan berharga yang akan terus melekat, baik bagi prajurit maupun keluarga yang setia mendampingi perjalanan mereka.
Dari Pantai Baruna, para prajurit melangkah membawa kehormatan Baret Ungu dan amanah pengabdian kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara itu, doa keluarga akan senantiasa menyertai setiap langkah mereka, dengan satu harapan sederhana namun mendalam: menjadi prajurit yang membanggakan, menjaga kehormatan Korps Marinir, dan kembali kepada keluarga dengan selamat.
Git – Red






