Terasistana.id Lebak – Gelombang penolakan datang dari pemuda Desa Padasuka, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, Selasa (24/3/2026). Rencana pembangunan Gedung Koperasi Desa Merah Putih di atas satu-satunya lapangan sepak bola desa memicu reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat, khususnya generasi muda yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Padasuka.
Lapangan Desa Padasuka bukan sekadar tanah kosong. Ia adalah ruang hidup, ruang tumbuh, dan ruang sejarah. Dari generasi ke generasi, lapangan ini menjadi pusat aktivitas olahraga, tempat berkumpulnya pemuda, hingga sarana pendidikan nonformal bagi siswa dari tingkat SD, SMP, hingga SMA.
“Ini bukan hanya lapangan bola. Ini adalah identitas desa kami. Di sinilah kami belajar kebersamaan, sportivitas, dan membangun mimpi,” tegas salah satu perwakilan Aliansi Pemuda Padasuka.
Penolakan ini bukan tanpa dasar. Secara rasional, hilangnya lapangan tersebut akan berdampak besar terhadap kehidupan sosial masyarakat. Desa Padasuka tidak memiliki alternatif ruang terbuka lain yang representatif. Jika pembangunan tetap dipaksakan, maka akan terjadi kehilangan ruang publik yang sangat vital, terutama bagi generasi muda.
Selain itu, lapangan ini telah menjadi ikon desa yang memiliki nilai historis dan emosional tinggi. Mengalihfungsikan lahan tersebut dinilai sebagai bentuk pengabaian terhadap nilai-nilai sosial dan kearifan lokal yang selama ini terjaga.
Aliansi Pemuda Padasuka menegaskan bahwa mereka tidak menolak pembangunan secara keseluruhan, namun menolak keras jika dilakukan di atas fasilitas umum yang sangat dibutuhkan masyarakat. Mereka mendorong pemerintah desa dan pihak terkait untuk mencari lokasi alternatif yang tidak merugikan kepentingan publik.
Dalam waktu dekat, Aliansi Pemuda Padasuka akan melakukan audiensi resmi ke DPRD Kabupaten Lebak guna menyampaikan aspirasi dan tuntutan mereka secara langsung. Langkah ini diambil sebagai bentuk keseriusan dalam memperjuangkan hak masyarakat serta menjaga keberlangsungan ruang publik desa.
“Kami akan datang ke DPRD. Kami ingin suara kami didengar. Jangan sampai pembangunan yang katanya untuk kesejahteraan justru mengorbankan masa depan generasi kami,” tambah perwakilan pemuda dengan nada tegas.
Situasi ini menjadi ujian bagi pemerintah daerah dalam menyeimbangkan antara pembangunan fisik dan keberlanjutan sosial masyarakat. Pemuda Padasuka berharap, keputusan yang diambil nantinya benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat, bukan sekadar proyek semata.
LAliansi Pemuda Padasuka menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat untuk bersatu menjaga aset desa yang menjadi kebanggaan bersama.
“Lapangan ini bukan untuk dihancurkan, tapi untuk diwariskan.”






