Terasistana.id, Jakarta
Jakarta,
21/02/2026.
Dunia medis sering kali dipandang sebagai bidang yang kaku,namun di tangan Terawan Agus Putranto,perspektif itu sering kali dirombak. Lahir di kawasan Sitisewu, Yogyakarta,pada 5 Agustus 1964, Terawan tumbuh besar di lingkungan yang sangat kental dengan nuansa budaya Jawa dan pendidikan yang kuat.
Setelah menamatkan studi kedokteran di Universitas Gadjah Mada,ia memilih jalur yang tidak biasa bagi kebanyakan dokter sipil: masuk militer. Sebagai lulusan Sepamilwa ABRI tahun 1990,ia mengabdikan dirinya sebagai pelaksana medis di berbagai daerah mulai dari Lombok hingga Bali, membuktikan bahwa dedikasi kedokteran bisa bersatu erat dengan disiplin militer secara inklusif.
Kepakarannya dalam bidang radiologi intervensi membawanya ke puncak karier di lingkungan kesehatan TNI AD, hingga akhirnya ia dipercaya menjabat sebagai Kepala RSPAD Gatot Soebroto dan Ketua Tim Dokter Kepresidenan.
Namun,nama Terawan baru benar- benar menjadi pembicaraan nasional saat ia memperkenalkan metode “cuci otak” untuk penderita stroke. Metode ini melahirkan gelombang testimoni positif dari tokoh-tokoh besar,mulai dari Dahlan Iskan hingga Prabowo Subianto, yang merasa kondisi kesehatannya membaik.
Meski demikian,inovasi ini juga memicu benturan keras dengan organisasi profesi kedokteran, hingga berujung pada pemecatan dirinya dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Bagi Terawan,ilmu pengetahuan adalah alat untuk membantu manusia, meskipun terkadang harus menempuh jalan yang berliku.
Keberanian Terawan membawanya menduduki kursi Menteri Kesehatan pada tahun 2019,menjadikannya dokter militer pertama dengan pangkat tertinggi yang memimpin kementerian tersebut sejak era 1980-an. Namun, masa jabatannya bertepatan dengan badai besar Pandemi COVID-19.
Di masa krisis itu,sosoknya sering kali menjadi sasaran kritik karena pernyataan-pernyataannya yang dianggap kurang simpatik oleh sebagian kalangan,seperti saran untuk “enjoy saja” demi menjaga imun tubuh. Meski dikelilingi berbagai kontroversi mengenai kebijakan masker dan pemulangan WNI dari Wuhan,ia tetap menunjukkan kegigihan seorang prajurit dalam mengawal evakuasi warga yang terjebak di kapal pesiar mancanegara.
Integritas Terawan diuji ketika ia kehilangan jabatan menterinya dalam perombakan kabinet di akhir tahun 2020. Alih-alih meredup,ia justru kembali berinovasi dengan mengembangkan Vaksin Nusantara, sebuah inisiatif vaksin berbasis sel dendritik yang kembali memicu debat panjang antara otoritas sains dan dukungan politik.
Pengakuan atas dedikasinya di bidang kedokteran militer akhirnya datang dalam bentuk gelar Profesor Kehormatan dari Universitas Pertahanan pada tahun 2022. Hal ini membuktikan bahwa meskipun jalannya sering kali berseberangan dengan arus utama,kontribusinya tetap dianggap penting bagi pertahanan kesehatan negara.
Kisah hidup Terawan memberikan pesan universal tentang keteguhan prinsip di tengah badai kritik. Ia menunjukkan bahwa inovasi sering kali lahir dari keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan menghadapi resistensi yang besar. Baginya, pelayanan kepada pasien dan pengabdian kepada negara adalah prioritas utama yang melampaui kepentingan administratif organisasi profesi. Perjalanannya mengajarkan kita bahwa dalam dunia medis yang terus berkembang,dialog antara tradisi dan inovasi harus tetap berjalan demi kemaslahatan masyarakat luas.
Hingga hari ini,di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto,Terawan tetap berada di lingkaran inti sebagai penasihat khusus Presiden bidang kesehatan. Posisi ini menunjukkan bahwa pengalaman dan pemikirannya masih dianggap sangat berharga bagi masa depan kesehatan Indonesia. Ia adalah simbol dari seorang dokter yang tidak hanya mengobati dengan obat,tetapi juga dengan keberanian untuk melakukan pembaharuan. Warisannya adalah sebuah diskusi besar tentang etika, sains,dan kemanusiaan yang akan terus bergulir di dunia kedokteran Indonesia.
Terawan Agus Putranto telah menuliskan babak penting dalam sejarah kesehatan Nusantara. Dari gang sempit di Yogyakarta hingga meja kabinet,ia telah membuktikan bahwa seorang dokter tentara bisa menjadi pusat perhatian dunia melalui karya dan sikapnya. Terlepas dari segala pro dan kontra yang ada, sosoknya tetap menjadi pengingat bahwa dedikasi yang tulus akan selalu menemukan jalannya untuk tetap relevan,melintasi pergantian kepemimpinan dan zaman.
Sumber: Wikipedia-“Terawan Agus Putranto”






