Terasistana.id,Jakarta
Jakarta,
06/10/2025
Pakar radiologi terkemuka Indonesia,Letjen TNI (Purn) Prof. Dr. dr.Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K). yakin Rumah Sakit Pusat Pertahanan Negara (RSPPN) Panglima Besar Soedirman mampu bersaing menjadi penyedia fasilitas medis nomor wahid di negeri ini. Karena tenaga medis dan peralatan kesehatan yang dimiliki sudah sangat lengkap dan mumpuni.
Sumber daya manusia (SDM) di RSPPN Soedirman sangat lengkap dan berpengalaman. Tim dokter spesialis juga sangat mumpuni,ramah kepada pasien dan ahli di bidangnya. Ditambah lagi alat-alat kesehatan yang dimiliki sangat canggih.
“Jadi saya percaya rumah sakit ini akan menjadi tumpuan masyarakat luas untuk pengobatan,khususnya bagi anggota TNI,ASN,dan lainnya,”papar Prof. Dr. dr. Terawan usai membuka perdana layanan Digital Subtraction Angiography (DSA) dengan tujuan memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam mengatasi gangguan stroke di rumah sakit yang berlokasi di Jl. RC Veteran Raya No. 178,Bintaro,Jakarta Selatan,pada Minggu (05/10/2025).
Prof. Dr. dr. Terawan juga berharap manajemen RSPPN bisa mengelola rumah sakit secara profesional dan berdaya saing. Untuk itu pengelola rumah sakit harus memiliki anggaran likuid dan tertib administrasi agar bisa melayani pasien dengan optimal.
Prof. Dr. dr. Terawan berjanji akan mendukung penuh dan mengawal operasional RSPPN Soedirman, termasuk saat melakukan tindakan operasi pasien. Ia juga berpesan, pengelola RSPPN bersikap sama dan adil terhadap seluruh pasien. Tidak membeda-bedakan pelayanan. “Kunci untuk mendapat citra positif dari masyarakat umum,ASN maupun TNI/Polri adalah pengelola harus kreatif dan memberikan pelayanan terbaik kepada siapa pun. Sesuai program 8 Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang berpedoman memberikan layanan kesehatan terbaik kepada setiap warga negara,”urainya.
Metode DSA Sudah Teruji.
Pada kesempatan itu,Prof Dr. dr. Terawan juga menegaskan, metode Digital Subtraction Angiogram (DSA) atau yang lebih dikenal dengan cuci otak, sudah diuji secara ilmiah. Uji ilmiah dilakukan saat dia menuangkan metode temuannya itu dalam disertasi program doktoral di Universitas Hasanuddin,Makassar,pada 2016. Riset tentang DSA bahkan telah melahirkan 12 jurnal internasional dan enam orang doktor,termasuk dirinya.
“Soal menilai jurnal itu adalah persepsi. Artinya kalau diuji secara ilmiah maka itu sudah dilakukan melalui disertasi. Apalagi disertasi diuji di universitas sangat terpandang, seperti Univ Hasanuddin, menurut saya harus dihargai,”kata Prof. Dr. dr. Terawan.
Saat menyelesaikan program doktoralnya,Prof. Dr. dr. Terawan menyusun disertasi dengan judul “Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow,Motor Evoked Potentials,dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis”,dengan promotor Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin,Irawan Yusuf.
Menurut Prof. Dr. dr. Terawan,semua prosedur terapi memiliki risiko sekecil apapun. Demikian pula metode DSA. Karenanya sebelum dilakukan tindakan terhadap pasien, dokter harus melakukan persiapan matang, dikerjakan secara cermat dan detil, dan tidak lupa dukungan doa.
Setiap tindakan terhadap pasien tidak ditutup-tutupi. Keluarga pasien bisa melihat tindakan tersebut melalui kaca transparan di samping ruangan. Bahkan,menurutnya,di seluruh dunia, hanya tindakan DSA yang boleh ditonton.
Secara teknis,metode penyembuhan stroke dengan DSA dilakukan dengan memasukkan alat kateter ke pembuluh darah melalui pangkal paha menuju otak. Tujuannya untuk melihat apakah terdapat penyumbatan pembuluh darah di otak (stroke iskemik). Penyumbatan dapat mengakibatkan aliran darah ke otak tidak lancar, dan bisa menyebabkan saraf tubuh tidak mampu bekerja dengan baik. Kondisi inilah yang terjadi pada penderita stroke.
Kehadiran layanan ini merupakan sebuah lompatan besar dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan khususnya di RSPPN Soedirman Kemhan. Dengan teknologi DSA,tim medis dapat melakukan diagnosis dan tindakan medis dengan lebih akurat,cepat,dan minim risiko bagi pasien.
Ini sejalan dengan komitmen RSPPN Soedirman untuk terus menghadirkan layanan kesehatan yang prima menuju paripurna,terutama bagi masyarakat luas yang menjadi penerima manfaat utama agar tercipta ekosistem pelayanan kesehatan yang prima sesuai motto RSPPN (Respek Sigap Peduli Profesional dan Nurani).
Git-Red.






